Penulis: Putri Ayu Lestari (Dosen UIN STS Jambi)
Puisi sering dianggap hidup di atas kertas, sunyi dan menunggu dibaca. “Tarikalisasi Puisi” karya Sanggar Seni Rasi membuktikan sebaliknya. Pertunjukan ini membawa teks sastra keluar dari halaman menuju panggung, tempat kata bertemu tubuh, bunyi, dan ruang. Sebagai apresiator sastra dan linguistik, saya melihatnya sebagai langkah terobosan yang sangat berkesan.
Kekuatan pementasan ini terletak pada alurnya yang mengalir dari satu karya ke karya berikutnya. Pertunjukan dibuka lewat “Akulah Melayu yang Tak Pernah Tidur” karya Utomo Soconingrat. Bahasa kinestetik M. Rahul berpadu dengan petikan gambus Tuan Tele, dan keduanya meletakkan fondasi identitas kultural yang kokoh sejak awal.
Suasana lalu bergeser perlahan ke ruang batin dalam “Kudekap Kusayang-Sayang” karya Emha Ainun Nadjib, yang dihadirkan lewat ansambel gerak yang selaras dan sarat nuansa spiritual. Perenungan berlanjut dalam “Soneta Laut” karya Subagio Sastrowardoyo, dengan koreografi duet Bervin Romadhon dan Cahaya Nabila yang puitis seperti ombak yang datang dan pergi. Puncaknya adalah “Kesedihan Indonesia” karya Ansori Barata, tampil kolosal dan menggelora sebagai kritik sosial yang menyentuh nurani.
Dari sudut pandang kebahasaan, pementasan ini mengingatkan bahwa makna puisi tidak hanya tinggal dalam diksi, tetapi juga dalam napas, irama, dan gestur. Tubuh penari menjadi tafsir, dan panggung menjadi ruang tempat kata menemukan kehidupan barunya.
Ada beberapa catatan sebagai masukan untuk pengembangan ke depan. Pertama, keseimbangan antara tuturan dan gerak perlu terus dijaga agar makna linguistik puisi tidak tenggelam oleh koreografi yang terlalu dominan.
Kedua, artikulasi dan kejernihan nada saat puisi dibacakan atau dilagukan layak mendapat porsi latihan vokal yang lebih intensif, sebab tekstur bahasa puitis sangat bergantung pada kejelasan bunyi. Ketiga, jeda antarpenampilan dapat dijembatani dengan pengantar kontekstual yang lebih halus, sehingga transisi emosi penonton dari satu puisi ke puisi lain terasa lebih mulus.
Catatan-catatan itu justru lahir dari rasa percaya bahwa pertunjukan ini punya potensi besar untuk tumbuh. Apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan kepada tim kreatif, para penari, pemusik, dan lembaga terkait yang telah menghidupkan ekosistem seni daerah.
“Tarikalisasi Puisi” bukan sekadar pementasan, melainkan ruang dialog kebudayaan yang layak dirawat, dikembangkan, dan dihadirkan secara berkala di tengah masyarakat.





