Saat Hutan Jadi Abu: Menatap Punahnya Kosakata Lokal di Tengah Asap Jambi

 

Oleh: Putri Ayu Lestari, M.Hum.

(Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi)

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melumpuhkan Provinsi Jambi selama lebih dari tiga bulan berturut-turut. Konsentrasi titik panas yang membakar kawasan gambut dan hutan hujan memicu krisis udara terburuk, di mana Indeks Kualitas Udara (AQI) dari platform pemantau IQAir di beberapa titik wilayah Jambi sempat menembus angka ekstrem di atas 800. Dampak domino bencana ekologis ini merambah cepat ke seluruh lini kehidupan warga, mulai dari lonjakan partikulat berbahaya (PM_2.5) yang memicu ribuan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hingga melumpuhkan aktivitas ekonomi serta transportasi. Penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi mencatat belasan penundaan hingga pembatalan akibat jarak pandang yang anjlok di bawah 500 meter, sementara ratusan ribu siswa dari tingkat PAUD hingga mahasiswa perguruan tinggi terpaksa mengalihkan proses belajar ke metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Namun, di balik kerugian fisik dan ekonomi yang tercatat secara kuantitatif, terdapat satu kehancuran sistematis yang luput dari perhatian publik, yaitu terancam punahnya kosakata serta pengetahuan ekologis lokal masyarakat Jambi.

 

Dalam kacamata ekolinguistik, bahasa tidak pernah berdiri terisolasi di ruang hampa, melainkan bertumbuh dan bernapas bersama ekosistem tempat para penuturnya bermukim. Bagi masyarakat Jambi, hutan hujan tropis dan bentang lahan gambut adalah “kamus hidup” tempat lahirnya ribuan kosakata, struktur berpikir, dan kebudayaan lokal. Data etnografi dari Desa Senaning, Kabupaten Batanghari, memperlihatkan betapa kayanya khazanah bahasa yang lahir langsung dari lanskap alam sekitar. Masyarakat setempat memiliki kosakata medis tradisional yang sangat spesifik, seperti Siri Cino untuk penyembuh peradangan dan luka ringan, Sambung Nyawo sebagai penawar demam, Pecah Beling dan Kumis Kucing untuk racikan obat sakit pinggang, Betadin Batang untuk obat luka luar, hingga Daun Jarak untuk pereda pegal linu. Tak hanya flora, bentang alam seperti aliran Sungai Batanghari yang berfungsi sebagai batas wilayah sekaligus urat nadi kehidupan, serta istilah agraris seperti Ampas Padi atau sekam, membentuk struktur pengetahuan lokal (traditional ecological knowledge) yang presisi. Sebagian besar tumbuhan obat alami ini merupakan plasma nutfah endemis yang membutuhkan mikroiklim khusus, seperti kelembapan hutan primer, kanopi pepohonan tua, dan struktur tanah gambut basah agar dapat tumbuh secara alami.

 

Lantas, apa yang terjadi ketika jutaan hektar hutan belantara dan gambut itu hangus terbakar menjadi abu? Fenomena yang terjadi adalah kepunahan bahasa berbasis ekologi (ecological language extinction). Secara teoritis, sebuah kata dalam bahasa daerah membutuhkan referen nyata di alam agar tetap relevan digunakan. Ketika kebakaran hutan memusnahkan vegetasi obat, rawa gambut, dan pohon-pohon endemis, generasi muda tidak lagi memiliki akses empiris untuk melihat, memegang, atau memanfaatkan tumbuhan tersebut. Rantai interaksi langsung antara manusia dan alam terputus seketika, sehingga kosakata lokal seperti Siri Cino atau Sambung Nyawo perlahan kehilangan maknanya di kehidupan sehari-hari. Kata-kata ini berhenti diucapkan, bergeser menjadi sekadar arsip mati, dan akhirnya terlupakan sepenuhnya sewaktu para tetua adat atau generasi tua wafat.

 

Musnahnya kosakata lokal bukan sekadar masalah teknis kebahasaan atau linguistik murni, melainkan krisis kebudayaan yang berdampak sistematis pada hilangnya cara pandang bijak masyarakat lokal dalam mengelola alam. Kosakata tradisional menyimpan filosofi dan tata aturan adat tentang batas-batas pemanfaatan alam, penanda musim, serta metode pengolahan tanah tanpa merusak. Ketika kosakata ini hilang, hilang pula panduan moral masyarakat lokal dalam menjaga keseimbangan ekosistem, yang berujung pada keterasingan ekologis (ecological alienation). Tergerusnya bahasa daerah membuat masyarakat lokal makin terasing dari alam tempat tinggalnya sendiri, di mana hutan dan lahan tak lagi dipandang sebagai “rumah” bernilai spiritual dan kultural, melainkan terdegradasi menjadi sekadar komoditas ekonomi eksploitatif. Keterasingan bahasa ini secara bertahap menumpulkan rasa krisis, sehingga bencana karhutla dianggap sebagai kelaziman tahunan belaka.

 

Ratusan juta liter air dari operasi water bombing dan perjuangan keras ribuan personel gabungan di lapangan memang krusial untuk memadamkan titik api. Namun, kita harus menyadari bahwa helikopter dan teknologi pemadam kebakaran tidak akan pernah bisa mengembalikan kosakata, memori kolektif, dan pengetahuan tradisional yang telah hangus terbakar. Oleh karena itu, kebijakan perlindungan dan pemulihan hutan serta lahan gambut di Provinsi Jambi tidak boleh lagi dinilai sebatas kalkulasi angka emisi karbon atau stabilitas ekonomi belaka. Ini adalah upaya penyelamatan atas keberlangsungan warisan tutur, identitas kebudayaan, dan sejarah peradaban masyarakat Jambi. Sebab, ketika hutan kita habis menjadi abu, kita tidak hanya kehilangan udara bersih untuk bernapas, tetapi juga kehilangan bahasa untuk menceritakan siapa diri kita sebenarnya.

Pos terkait