SEARAH.CO- Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus meningkat, seiring dengan menguatnya musim kemarau yang melanda wilayah tersebut.
Betapa tidak, luas lahan kebakaran dari Januari hingga Jumat (28/8) sudah mencapai sekitar 1.249,53 hektare. Sedangkan jumlah hotspot kumulatif telah mencapai 4.945 titik.
Pada, Sabtu (29/8) pukul 00.00-16.00 WIB terpantau 135 hotspot. Muaro Jambi menjadi wilayah dengan hotspot harian terbanyak, yakni 37 titik, disusul Batang Hari 21 titik, Tebo 20 titik, Tanjung Jabung Timur 19 titik, Tanjung Jabung Barat 16 titik dan Sarolangun 14 titik.
Dalam hal ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla di wilayah itu belum boleh dikendurkan.
“Hotspot kumulatif sudah mendekati 5.000 titik dan luas terbakar sudah menembus 1.200 hektare, ini alarm bagi kita dan kita mengapresiasi kerja satgas. Tapi sekarang evaluasinya harus semakin tajam serta berbasis hasil,” ujar Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata, Minggu (30/8/2026).
Ia menyoroti perubahan estimasi luas lahan terbakar yang sebelumnya sekitar 954,41 hektare menjadi 1.249,53 hektare atau bertambah sekitar 295 hektare.
Berdasarkan laporan pada, Sabtu (29/8), Muaro Jambi mencatat luas terbakar terbesar sekitar 325,38 hektare, disusul Batang Hari 255,40 hektare, Tanjung Jabung Barat 214,40 hektare, Tanjung Jabung Timur 189,63 hektare, Sarolangun 143,61 hektare, dan Tebo 96,81 hektare.
Kenaikan yang terlihat signifikan terjadi pada Batanghari dan Tanjung Jabung Timur. Menurutnya, hal tersebut perlu dijelaskan secara teknis, apakah penambahan luas itu merupakan kebakaran baru atau pembaruan hasil verifikasi data pemetaan lapangan.
“Data luas terbakar harus akurat, karena menjadi salah satu indikator utama efektivitas penanganan,” katanya.
Menurutnya, Kabupaten Muaro Jambi saat ini membutuhkan perhatian khusus. Selain mencatat hotspot harian tertinggi sebanyak 37 titik, wilayah itu juga memiliki sekitar 779 hotspot kumulatif, luas terbakar sekitar 325,38 hektare, serta ISPU 150 atau kategori tidak sehat dalam laporan itu.
“Muaro Jambi menghadapi tekanan berlapis, hotspot, kebakaran lahan dan kualitas udara. Jadi responsnya tidak boleh hanya pemadaman. Harus ada pembasahan, perlindungan kesehatan dan penguatan tata air,” kata dia.
Secara kumulatif, Sarolangun masih menjadi daerah dengan hotspot tertinggi sebanyak 1.243 titik, diikuti Tanjung Jabung Barat 923 titik dan Muaro Jambi 779 titik.
Ketiga wilayah tersebut menyumbang sekitar 60 persen hotspot kumulatif Jambi, sehingga harus tetap menjadi koridor prioritas struktural pengendalian Karhutla.
Berdasarkan laporan satgas mencatat, ISPU Tebo 170, Kota Jambi 167 dan Muaro Jambi 150, seluruhnya berada pada kategori tidak sehat. Tanjung Jabung Timur tercatat 64 atau kategori sedang.
Ia menyebutkan, bahwa indikator tersebut membuktikan Karhutla tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan kehutanan atau kebencanaan.
“Begitu udara tidak sehat, persoalannya sudah masuk ke kesehatan, pendidikan dan aktivitas ekonomi. Informasi ISPU harus disampaikan secara terbuka dan cepat agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitasnya,” jelasnya.
Mantan Kepala Dinas PUPR Provinsi Jambi tersebut meminta perhatian khusus diberikan kepada anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil serta masyarakat dengan gangguan pernapasan.
Ia menambahkan, bahwa selama ini perhatian publik banyak diarahkan pada jumlah hotspot dan luas lahan terbakar. Ke depan, pemerintah juga harus mulai menghitung avoided loss, yakni kerugian yang berhasil dicegah.
“Jangan hanya menghitung 1.249 hektare yang sudah terbakar. Kita juga harus menghitung berapa hektare yang berhasil tidak terbakar, berapa emisi yang berhasil dicegah, berapa kerugian ekonomi yang tidak terjadi dan berapa masyarakat yang berhasil kita lindungi,” terangnya.
Pendekatan tersebut akan mengubah anggaran pencegahan dari sekadar biaya menjadi investasi ketahanan daerah.
Keberhasilan tertinggi bukan ketika kita mampu memadamkan banyak kebakaran. Keberhasilan tertinggi adalah ketika semakin sedikit kebakaran yang harus kita padamkan karena pencegahan bekerja,” sebutnya.





