SEARAH.CO – Milisi Houti di Yaman bantu Iran dalam perang melawan Amerika Serikat (AS) – Israel hal ini diperiksa membuat hanya minyak dunia mengalami kenaikan dan ekonomi global terancam ambruk.
Kelompok milisi Houti di Yaman kerap disebut-sebut sebagai proxy Iran yang kini menguasai Yaman. Houti sendiri telah menyatakan sikapnya atas perang Iran Vs AS – Israel hal ini mengancam posisi Laut Merah hingga terusan Suez.
Juru bicara militer kelompok Ansar Allah Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan operasi pertama dengan serangkaian rudal balistik di wilayah selatan Israel. Pengumuman ini menyusul kabar meluncurnya rudal perdana dari Yaman ke Israel pagi ini.
“Kami mengebom sasaran militer sensitif musuh Israel di wilayah selatan Palestina yang diduduki, bersamaan dengan operasi heroik Iran dan Hizbullah di Lebanon,” kata Saree dalam pidato yang disiarkan televisi.
Saree menekankan bahwa operasi Houthi akan terus berlanjut sampai agresi berhenti di semua lini perlawanan di Iran, Lebanon, Irak dan Palestina.
Media Israel melaporkan pada Sabtu pagi bahwa rudal diluncurkan dari Yaman menuju wilayah pendudukan selatan, dan sirene berbunyi di Eilat, wilayah Wadi Araba, dan al-Naqab. Hal ini menandakan bahwa Yaman telah resmi memasuki perang.
Sebelum serangan Houthi pagi ini, Israel dan AS meningkatkan eskalasi serangan ke Iran dengan mengebom pabrik baja dan dua pembangkit nuklir sipil. Serangan brutal ini yang agaknya memicu Houthi akhirnya meluncurkan rudal.
Indikasinya, Yahya Saree kemarin mengatakan bahwa kelompok tersebut siap ikut bertempur dengan Iran jika sejumlah kondisi terpenuhi. Salah satu kondisi itu adalah jika serangan terus meningkat melawan Iran dan poros perlawanan.
Pada Jumat, Saree juga menjelaskan bahwa Houthi akan berpartisipasi dalam intervensi militer jika ada negara baru yang bergabung dengan AS dan Israel dalam perang melawan Iran.
Sejauh ini serangan ke Iran dilakukan oleh AS dan Israel meski difasilitasi pangkalan militer di negara-negara Teluk. Meski begitu seturut serangan balasan Iran ke pangkalan itu, sejumlah negara Teluk mulai menimbang ikut menyerang Iran.
Kondisi kedua bagi Houthi untuk ikut perang bersama Iran AS adalah jika Laut Merah digunakan untuk menargetkan Iran atau negara Muslim mana pun.
Pada Oktober 2023, Houthi memblokade Laut Merah ketika Israel menggencarkan genosidanya di Gaza. Kapal-kapal menuju Israel dihantam rudal Houthi, membuat pelabuhan-pelabuhan di Israel bangkrut. Blokade itu juga membuat kapal-kapal memutar jauh dan mahal melalui Afrika untuk mencapai Eropa dari Asia.
AS kemudian memimpin koalisi patroli di Laut Merah dan berulang kali menyerang Yaman. Setelah kerugian besar dalam aksi tersebut, termasuk jatuhnya tiga jet tempur F-16, AS menyetujui gencatan senjata dengan Houthi pada 2025.
Dalam pernyataannya, Saree juga menyerukan AS dan Israel untuk menanggapi upaya diplomatik internasional untuk menghentikan perang dengan Iran dan “negara-negara Poros Perlawanan”, termasuk Lebanon.
“Agresi ini tidak adil, menindas, dan tidak beralasan, merugikan stabilitas dan keamanan global dan regional, serta merusak perekonomian global,” ujarnya.
Poin kedua yang dia sebutkan adalah penghentian agresi di Palestina, Lebanon, Irak, Iran dan pencabutan “blokade tidak adil terhadap Yaman.” Ketiga, penerapan “gencatan senjata” di Gaza dan pemenuhan kewajiban terkait pengiriman kemanusiaan dan hak-hak sah warga Palestina.
Sejauh ini, belum ada tanggapan resmi dari Teheran. Namun, selama beberapa waktu belakangan para pejabat di Teheran mengatakan bahwa Houthi di Yaman adalah sekutu dekat meski pengambilan keputusan dan tindakan mereka sebagian besar independen.
Sementara Aljazirah melaporkan, sumber resmi prkan laku membocorkan tentang kemungkinan menutup titik strategis penting lainnya, tanpa menyebutkan secara spesifik yang mana.
Kini, setelah Iran mencari pengaruh melalui Selat Hormuz, perhatian beralih ke titik penting lainnya, kemungkinan besar Bab al-Mandeb, salah satu rute terpenting bagi aliran energi global di Laut Merah.
Artinya, masuknya Houthi ke dalam perang AS-Israel dan Iran dapat mengancam jalur utama kedua bagi perdagangan global, kata Mohamad Elmasry, seorang profesor di Institut Studi Pascasarjana Doha.
“Kita telah melihat selama dua setengah tahun terakhir bahwa Houthi memiliki kekuatan yang signifikan, dan jika mereka memutuskan untuk menutup Selat Bab al-Mandab dan dengan demikian menutup akses ke Laut Merah dan akhirnya Terusan Suez, maka kita akan memiliki dua titik hambatan utama saat ini, yaitu Selat Hormuz dan Terusan Suez,” kata Elmasry kepada Aljazirah.
“Ini adalah jalur pelayaran global yang penting bagi perdagangan internasional, jadi menurut saya ini bisa menjadi sangat penting dari sudut pandang itu.”
Dia mengatakan serangan berkelanjutan dari kelompok Houthi juga akan menambah tekanan pada pertahanan udara Israel yang kuat namun bisa ditembus. “Rudal Hizbullah, roket, dan juga rudal Iran telah mampu menembus dalam beberapa pekan terakhir. Jika Israel sekarang terpaksa bertahan melawan rudal yang datang dari Yaman, hal itu akan membuat segalanya menjadi lebih rumit bagi mereka,” ujarnya.
“Di sisi lain, secara politis, dan mungkin secara paradoks, Israel mungkin menyambut baik hal ini karena mereka ingin memperluas perang. Mereka ingin memastikan bahwa Donald Trump tidak mengambil jalan keluar dalam waktu dekat. Tujuan Israel belum tercapai.”
Serangan Houthi juga tak lama setelah Ketua Parlemen Iran Teheran Mohammad Bagher Qalibaf menyebut AS dan Israel merencanakan untuk menduduki salah satu pulau milik negaranya. Rencana ini disebutnya mendapat dukungan dari salah satu negara di kawasan.
“Berdasarkan sejumlah data, musuh-musuh Iran, dengan dukungan salah satu negara di kawasan, sedang mempersiapkan operasi untuk menduduki salah satu pulau Iran,” kata Mohammad Bagher Qalibaf dalam sebuah unggahan di platform media sosial X.
Namun, ia tidak menyebutkan negara kawasan tersebut. Qalibaf mengatakan bahwa semua pergerakan musuh sedang dipantau oleh angkatan bersenjata Iran.
“Jika mereka mengambil langkah apa pun, seluruh infrastruktur vital negara kawasan tersebut akan menjadi sasaran tanpa batas melalui serangan tanpa henti,” ancamnya.
Amerika Serikat dan Israel telah melakukan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari, yang sejauh ini menewaskan lebih dari 1.340 orang. Jumlah ini termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran telah membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.





