PFI Jambi Ajak Publik Pameran TAUT Pahami Esensi dan Teknik Foto Jurnalistik

SEARAH.CO — Rangkaian kegiatan pameran TAUT: Manusia, Ruang dan Cerita yang digelar oleh Riko Mappedeceng bekerja sama dengan Majang Puto sukses menghadirkan sesi berbagi (sharing session) inspiratif bersama Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jambi.

Mengusung agenda “Ngopi Pagi Bersama Pewarta Foto Indonesia”, acara ini menghadirkan Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jambi, Irma Tambunan (Jurnalis Harian Kompas), sebagai pembicara utama.

Kegiatan yang terbuka untuk umum dan gratis ini dilangsungkan di Kopi Rasa Sedap, Kota Jambi.

Dalam pemaparannya, Irma mengupas tuntas esensi dasar dari fotografi jurnalistik yang bukan sekadar membidik gambar, melainkan sebuah komunikasi visual untuk menyampaikan peristiwa nyata secara faktual, objektif, dan jujur.

“Fotografi bermula dari kata photos (cahaya) dan graphos (menulis). Secara harafiah berarti menulis dengan cahaya, atau yang bisa dikembangkan menjadi bercerita dan melukis dengan cahaya,” jelas Irma di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, ia memaparkan karya foto jurnalistik haruslah berlandaskan fakta, dilengkapi unsur 5W1H, memiliki konteks, dan membawa pesan.

Dalam sesi materi tersebut, PFI Jambi juga membagikan sejumlah pilar penting dalam menghasilkan foto jurnalistik yang berkualitas, di antaranya:

Ciri-Ciri Utama: Berbasis fakta tanpa rekayasa, dilengkapi keterangan (caption) yang memuat unsur 5W+1H, serta mampu menyampaikan pesan kuat bagi pembaca.

Unsur Penunjang: Memiliki daya tarik visual (eye catching), berada dalam konteks yang bermakna (meaningful), memiliki dampak emosional (impact), aktual, serta menyangkut kehidupan publik.

Teknik Lapangan: Kepekaan dalam membaca karakter cahaya (pagi, sore, backlight, hingga cuaca mendung) serta kesabaran dalam menangkap momen seringkali jauh lebih menentukan daripada sekadar menggunakan kamera yang mahal.

Selain teori pencahayaan dan momen, peserta juga dibekali wawasan teknis lainnya.

Pameran ini menjadi ruang diskusi di antara para fotografer dan pengunjung pameran untuk membaca kembali hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya.

Pengurus PFI, Fitri Amalia, menambahkan berbagai momen dapat menjadi sumber inspirasi karya foto jurnalistik. Momen sederhana sekalipun dapat menjadi karya jurnalistik yang kuat jika diambil dengan kreativitas sudut padang dan caption yang tepat.

Dalam diskusi, Dedi Supriansyah, turut menguatkan pentingnya narasi. “Banyak fotografer pintar memotret tetapi lemah dalam membangun narasi. Ini menjadi tantangannya,” katanya.

Rangkaian karya fotografi yang ditampilkan, TAUT mengajak pengunjung untuk melihat lebih dekat, membangun hubungan antar gambar, serta menemukan makna di balik hal-hal yang tampak.

Melalui kegiatan TAUT ini, kolaborasi antara Riko Mappedeceng dan Majang Puto diharapkan mampu merangsang antusiasme anak muda serta pegiat visual di Jambi untuk terus mengasah kepekaan estetika dan jurnalisme lewat lensa kamera.

Pos terkait