Desak Investigasi Atas Meninggalnya Dokter Internship RSUD KH Daud Arif, Ivan Wirata: Bila Ditemukan Pelanggaran Harus Ada Evaluasi

SEARAH.CO- Kabar meninggalnya dr Myta Aprilia Azmy, dokter internship di RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi menjadi perhatian serius dari berbagai pihak.

Pasalnya, adanya dugaan dr Myta mengalami beban kerja berat tanpa istirahat memadai selama menjalani masa internship. Bahkan meski kondisi kesehatannya menurun sejak Maret 2026, ia disebut tetap menjalankan tugas jaga.

Bacaan Lainnya

Ia sebelumnya sempat dirawat di ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Berbagai pihak juga mendorong kasus meninggalnya dokter muda yang bertugas dalam program internship untuk diusut tuntas.

Menyikapi surat keprihatinan dari Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK UNSRI), unsur pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi menyampaikan duka mendalam atas wafatnya dr Myta, seorang dokter internship di RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal.

“Pertama-tama atas nama pribadi dan pimpinan DPRD Provinsi Jambi saya menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum. Ini adalah kehilangan besar bagi dunia kesehatan kita,” kata Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata, Minggu (3/5/2026).

DPRD Provinsi Jambi juga meminta kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jambi berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat untuk segera melakukan audit investigasi yang transparan terhadap RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal.

Ia menyampaikan, bahwa terkait beban kerja yang diduga tidak manusiawi serta adanya dugaan indikasi kelalaian klinis ini merupakan persoalan yang serius dan tidak boleh diabaikan.

“Kami minta audit dilakukan secara transparan dan menyeluruh. Apabila ditemukan adanya pelanggaran, maka harus ada evaluasi dan perbaikan sistem,” ujarnya.

Hasil dari audit tersebut diharapkan menjadi rekomendasi oleh Gubernur Jambi untuk membuat surat kepada seluruh bupati atau walikota, agar kejadian ini tidak terulang kembali demi menjaga nama baik provinsi itu.

“Kita juga meminta maaf kepada keluarga yang ditinggalkan. Karena kelalaian dan kurangnya evaluasi dari pemerintah, kok ada yang melakukan hal-hal yang menurut kita tidak wajar,” katanya.

Tidak hanya itu, ia juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap tenaga medis, khususnya dokter internship yang masih dalam tahap pembelajaran dan pengabdian.

“Perlindungan terhadap hak-hak dokter internship, termasuk jam kerja dan supervisi, harus dipastikan berjalan sesuai regulasi Kemenkes,” terangnya.

Menurutnya, sistem kesehatan tidak boleh membiarkan tenaga medis muda bekerja dalam tekanan berlebihan yang justru berpotensi membahayakan keselamatan mereka.

“Kejadian ini menjadi sinyal keras bagi sistem kesehatan di Jambi. Kita tidak ingin para dokter muda yang sedang mengabdi justru mendapat tekanan yang membahayakan,” sebutnya.

DPRD Provinsi Jambi melalui komisi terkait akan segera memanggil pihak-pihak berwenang guna meminta penjelasan rinci atas peristiwa tersebut. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan benar-benar menjadi tempat yang aman, baik bagi tenaga medis maupun pasien.

Pentingnya perhatian khusus terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan. Ia mendorong adanya evaluasi terhadap besaran honor yang diterima dokter dan tenaga kesehatan di seluruh rumah sakit milik pemerintah di Provinsi Jambi agar lebih layak dan manusiawi.

“Kita ingin ada perbaikan menyeluruh, tidak hanya pada sistem kerja, tetapi juga pada kesejahteraan tenaga medis. Mereka adalah garda terdepan pelayanan kesehatan,” ungkapnya.

Pos terkait