Oleh: Novita Sari, Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Tanjung Jabung Barat
Setiap tanggal 25 November tiba, gegap gempita perayaan Hari Guru Nasional selalu membangkitkan nostalgia: mengenang jasa pahlawan, menghormati pengabdian, dan mengucapkan terima kasih atas dedikasi guru-guru kita. Namun, di balik acara seremonial dan ucapan manis untuk guru di tahun 2025 ini, ada bayangan refleksi yang agak pahit: guru kita mungkin sedang tidak baik-baik saja.
Berdasarkan kasus-kasus guru yang mengisi sepanjang tahun 2025. Hari Guru kali ini harus menjadi momen untuk berhenti sejenak dari sekadar memuji. Kita harus jujur mengakui, ada ironi besar dalam profesi pendidik.
*Ironi Kesejahteraan di Tengah Dedikasi*
Kasus klasik yang tak pernah usai adalah soal kesejahteraan. Bagaimana mungkin kita mengharapkan kualitas pendidikan kelas dunia, sementara di saat yang sama, guru honorer kita masih berjuang hidup dengan gaji yang bahkan tidak layak disebut upah? sebuah tamparan keras bagi komitmen bangsa terhadap pendidikan. Meskipun kita juga perlu melirik upaya yang belakangan ini terlihat sebagai bagian dari menumpas hal tersebut.
Dalam sambutan Kemendikdasmen, hari ini guru diminta bukan hanya mengajar tetapi mendidik dengan hati. Dalam kacamata kita, sederet peran guru harus dilakukan, bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai konselor dan penengah konflik. Jika saja segala peran tersebut diikuti dengan kesejahteraan yang memadai barangkali kita tidak menemukan orang-orang yang menjadi guru karena pasrah akan keadaan.
Guru-guru hari ini didorong untuk berinovasi, menguasai AI, dan beradaptasi dengan Kurikulum pembelajaran. Namun, setiap pulang ke rumah, mereka harus berhadapan dengan penelanjangan realitas ekonomi yang memeras. Ini membuat profesi guru terasa seperti panggilan yang mahal, di mana dedikasi harus dibayar dengan pengorbanan finansial yang ekstrem. Jika terus dibiarkan demikian, entah kapan kita akan menemukan orang terbaik yang berbondong-bondong memilih profesi ini.
*Guru: Antara Role Model dan Anggapan Serba Salah*
Di sisi lain, publik juga dihebohkan oleh kasus-kasus viral yang melibatkan guru hingga dijatuhi hukuman, penurunan jabatan hingga mendekam di penjara. Pada dasarnya kebijakan undang-undang guru dan dosen telah hadir memayungi, namun dalam implementasinya masih dirasa kurang. Selalu ada celah untuk mengkriminalisasi guru meskipun itu dimaksudkan untuk mendisiplinkan. Apalagi jika meledak di media sosial dan membuat publik terbagi dua, tak ayal banyak anggapan serba salah dalam profesi ini.
Dalam keadaan itu, mereka mengingatkan kita bahwa guru adalah manusia biasa, namun profesi ini menuntut standar etika yang luar biasa. Ketika seorang guru menjadi viral karena perilaku buruk di media sosial atau di depan kelas, dampaknya langsung merusak kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan secara keseluruhan. Sehingga, pendidikan etika dan manajemen emosi harus menjadi bagian integral dari guru, bukan hanya mengajar soal materi pelajaran.
Sejatinya guru-guru merasa “serba salah” saat harus mendisiplinkan siswa. Mereka takut dicap melanggar HAM, takut dikriminalisasi, bahkan takut berhadapan dengan orang tua yang sedikit-sedikit mengancam lapor polisi. Seorang guru seharusnya bisa tegas tanpa harus takut dipenjara. Disiplin adalah bagian dari pendidikan karakter. Jika guru kehilangan wewenang untuk mendidik dengan ketegasan yang mendidik, maka siapa yang akan mengajarkan batasan kepada anak-anak?
Guru adalah investasi terbaik bangsa. Jika kita mencintai masa depan, kita harus mencintai guru dengan tulus, dengan cara memberi mereka penghargaan, perlindungan, dan kesejahteraan yang memang pantas mereka dapatkan atau jika tidak bayang-bayang terburuk masih bisa mendatangi bangsa kita kapan saja.




