Pemuda Mandiri, Pemuda Untuk Negeri

Oleh Refor Diansyah, M.Pd Pemuda, Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam, IAIN Pontianak.

Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali mengenang Sumpah Pemuda. Sebuah momentum sejarah yang menegaskan bahwa bangsa Indonesia dibangun dari semangat persatuan dan tekad anak muda. Dulu, para pemuda bersatu melawan penjajahan dengan semangat kebangsaan. Kini, perjuangan itu berlanjut dalam bentuk lain: perjuangan untuk membangun kemandirian ekonomi, memperkuat daya saing bangsa, dan menjadi agen perubahan bagi negeri.

Pemuda hari ini tidak lagi berjuang dengan bambu runcing, melainkan dengan gagasan, inovasi, dan teknologi. Tantangannya pun berbeda: bukan melawan penjajah bersenjata, tetapi melawan kemiskinan, ketimpangan, dan ketertinggalan ekonomi. Di era digital, semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan menjadi gerakan kemandirian ekonomi, gerakan anak muda yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan peluang kerja, membangun jejaring, dan menghidupkan ekonomi lokal. Kalimantan Barat menyimpan potensi luar biasa bagi pemuda untuk berperan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, pertumbuhan ekonomi provinsi ini mencapai 4,98% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan geliat positif dari sektor-sektor unggulan seperti pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. Namun, dibalik capaian tersebut, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) masih berada di kisaran 4,23%, dan sebagian besar berasal dari kelompok usia muda. Artinya, banyak pemuda yang sebenarnya memiliki energi besar, tetapi belum terserap dalam kegiatan ekonomi produktif.

Sebagian pemuda bahkan tergolong NEET (Not in Education, Employment, or Training), yakni mereka yang tidak sedang bekerja, bersekolah, atau mengikuti pelatihan. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Tanjungpura (2023) menunjukkan peningkatan jumlah NEET di Kalimantan Barat dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini bukan hanya akibat kurangnya lapangan kerja, tetapi juga terbatasnya keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja modern. Di sinilah tantangan sekaligus peluang besar bagi pemuda untuk bertransformasi menjadi pencipta lapangan kerja baru melalui kewirausahaan dan inovasi.

Kalimantan Barat kaya akan sumber daya alam dan budaya yang unik. Menurut laporan BPS tentang Industri Mikro dan Kecil (2024), lebih dari 90% pelaku usaha di provinsi ini adalah usaha mikro dan kecil (UMK). Sayangnya, banyak yang belum terkoneksi dengan pasar digital. Hal ini menjadi ladang peluang bagi pemuda untuk menjadi penggerak transformasi digital UMKM, mengajarkan penggunaan media sosial, marketplace, hingga teknik desain produk. Dengan literasi digital, pemuda dapat menjembatani pelaku usaha tradisional agar menembus pasar nasional bahkan global.

Selain itu, Balitbang Kalimantan Barat (2022) mencatat bahwa produk berbasis budaya lokal seperti tenun Sambas, anyaman rotan dari Kapuas Hulu, atau olahan kopi khas Bengkayang memiliki potensi besar di pasar ekspor jika dikembangkan dengan kemasan dan strategi pemasaran modern. Di sinilah kreativitas pemuda berperan penting. Mereka yang menguasai desain grafis, fotografi, dan pemasaran digital bisa mengangkat produk-produk lokal menjadi kebanggaan global tanpa kehilangan akar budaya.

Peluang lainnya datang dari tren ekonomi hijau dan wirausaha sosial. Kalimantan Barat sebagai wilayah kaya hutan dan sungai memiliki peluang besar mengembangkan pertanian organik, ekowisata, dan pengelolaan limbah kreatif.

Pemuda dapat menjadi pelopor gerakan green startup, yang tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan. Dalam konteks ini, pemuda Kalbar bisa menghidupkan kembali semangat “cinta tanah air” dalam bentuk baru: melestarikan bumi sambil menumbuhkan ekonomi rakyat.

Tak kalah penting adalah potensi pengembangan kewirausahaan syariah. Dengan dukungan lembaga pendidikan seperti Institut Agama Islam Negeri Pontianak dan berbagai bank syariah, pemuda dapat menumbuhkan usaha yang berlandaskan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan.

Prinsip syariah yang menolak riba dan mendorong kemitraan sejalan dengan nilai etika bisnis yang manusiawi dan berkeadilan sosial, sebuah model ekonomi yang sangat relevan di tengah tantangan moral ekonomi modern.

Menurut Zamroni (2023) dalam Jurnal Pembangunan Ekonomi Daerah, peran pemuda dalam pembangunan tidak hanya dilihat dari kontribusi ekonomi semata, tetapi juga dari kemampuannya membangun jejaring sosial, solidaritas, dan semangat gotong royong. Pemuda yang mandiri adalah mereka yang tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi mampu memandirikan komunitasnya. Mereka mengubah potensi menjadi peluang, dan peluang menjadi penghidupan bagi orang lain.

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, terdapat langkah-langkah konkret agar pemuda dapat menjadi pemuda mandiri

Pertama, bangun mental mandiri dan berdaya saing. Kemandirian dimulai dari pola pikir: berani mencoba, tidak bergantung, dan siap menghadapi risiko. Pemuda perlu menumbuhkan karakter tangguh, kreatif, dan terbuka terhadap perubahan.

Kedua, kuasai keterampilan digital. Di era ekonomi 4.0, literasi digital adalah “senjata utama”. Pemuda Kalimantan Barat dapat memanfaatkan pelatihan daring, kursus online, atau inkubator bisnis lokal untuk memperkuat kemampuan di bidang teknologi, pemasaran digital, dan inovasi produk.

Ketiga, kembangkan potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi. Dari tenun Sambas, kopi Bengkayang, madu hutan Kapuas Hulu, hingga hasil perikanan pesisir Ketapang semuanya dapat diolah dan dipasarkan secara modern. Pemuda dapat menjadi jembatan antara produk lokal dan pasar nasional bahkan global.

Keempat, bangun jejaring dan kolaborasi. Pemuda tidak bisa mandiri tanpa komunitas. Bergabunglah dengan organisasi, komunitas kewirausahaan, koperasi mahasiswa, atau kelompok ekonomi kreatif. Kolaborasi menciptakan peluang, memperluas wawasan, dan membuka akses modal serta pasar.

Kelima, pegang nilai moral dan spiritual dalam berkarya. Sebagaimana ditegaskan dalam prinsip ekonomi syariah, kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan adalah fondasi yang membuat kemandirian berkelanjutan. Dengan semangat Amanah, Kompeten, dan Loyal sebagaimana nilai BerAKHLAK, pemuda dapat membangun usaha yang tidak hanya untung secara materi, tetapi juga bernilai sosial.

Spirit Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa kekuatan bangsa lahir dari tekad yang bersatu. Maka, pemuda Kalimantan Barat hari ini harus bersatu untuk membangun ekonomi daerahnya. Dari Pontianak hingga Sambas, dari Ketapang hingga Kapuas Hulu, setiap pemuda memiliki peran dan peluang. Dengan keberanian berinovasi, kemampuan digital, dan semangat kolaborasi, mereka dapat menjadi motor penggerak kemajuan ekonomi yang berakar pada nilai-nilai lokal.

Kini saatnya kita menyadari bahwa menjadi pemuda mandiri bukan berarti berjalan sendiri, melainkan menjadikan kemandirian sebagai jalan untuk berkontribusi bagi masyarakat dan negeri. Di tangan pemuda yang kreatif, terampil, dan berakhlak, Kalimantan Barat tidak hanya menjadi daerah kaya sumber daya alam, tetapi juga sumber inspirasi bagi Indonesia.

Pemuda harus berani bermimpi besar, berpikir strategis, dan bertindak nyata untuk membangun ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan. Dengan kolaborasi lintas sektor antara pemuda, akademisi, pemerintah, dan dunia usaha, maka cita-cita “Pemuda Mandiri, Pemuda untuk Negeri” bukan sekadar slogan, tetapi menjadi gerakan nyata menuju Indonesia Emas 2045.

Pos terkait