Warga Penyengat Olak Serukan Aksi Damai Segel Stockpile Pasir CV Lintas Makmur Sejahtera

Warga Penyengat Olak Serukan Aksi Damai
Warga Penyengat Olak Serukan Aksi Damai Segel Stockpile Pasir CV Lintas Makmur Sejahtera. Foto : Istimewa

SEARAH.CO – Keresahan masyarakat Desa Penyengat Olak, Kabupaten Muaro Jambi, terhadap aktivitas penimbunan (stockpile) pasir milik CV Lintas Makmur Sejahtera (LMS) tampaknya telah mencapai titik puncak.

Kelompok Warga Masyarakat Desa Penyengat Olak bersama Yayasan Keadilan Rakyat (YKR) menggelar “Seruan Aksi Damai” untuk mendesak penegakan hukum dan penghentian operasional perusahaan tersebut.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan selebaran yang beredar, aksi damai ini dijadwalkan berlangsung pada hari Senin, 26 Oktober 2026, mulai pukul 06.00 WIB sampai selesai, bertempat di Jalan Lintas Timur RT 03 Desa Penyengat Olak.

Aksi ini menyuarakan tiga tuntutan utama yang tertuang dalam poster bertema hitam-merah tersebut. Pertama, warga mendesak adanya penyegelan lokasi stockpile pasir CV Lintas Makmur Sejahtera. Kedua, mereka menuntut pencabutan izin persetujuan lingkungan yang selama ini dikantongi perusahaan. Ketiga, warga mendesak penutupan pelabuhan atau stockpile pasir tersebut.

Dalam poster tersebut, warga menyoroti dampak buruk yang ditimbulkan dari aktivitas tersebut. “Dampak yang sudah ditanggung warga tidak bisa lagi diabaikan!” tulis pihak penyelenggara aksi dalam poster tersebut, yang menampilkan foto udara lokasi penimbunan yang berdekatan langsung dengan permukiman warga.

Menanggapi rencana aksi tersebut, Ketua Warga Kelompok Masyarakat Penyengat Olak, Kapten Eri, menegaskan bahwa aksi ini murni merupakan bentuk keputusasaan warga akibat dampak lingkungan dan sosial yang dirasakan selama ini.

“Menurut Kapten Eri, keresahan masyarakat Penyengat Olak sudah tidak tertahankan lagi,” kata Kapten Eri saat dikonfirmasi, Jumat (23/10/2026).

Ia menjelaskan, keberadaan stockpile pasir tersebut telah sangat mengganggu ketenangan dan kenyamanan hidup warga sekitar, terutama terkait dengan debu, akses jalan yang rusak, serta potensi kerusakan lingkungan.

“Kami sudah mencoba bersabar, tetapi dampaknya semakin hari semakin parah. Ini bukan sekadar penolakan, tapi upaya warga untuk menyelamatkan lingkungan tempat tinggal kami. Kami berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mendengar aspirasi ini sebelum situasi semakin memanas,” tambahnya.

Aksi damai ini rencananya akan diikuti oleh ratusan warga setempat dan simpatisan. Massa akan membawa atribut dan spanduk sebagai bentuk ekspresi penolakan.

Warga berharap aksi ini berjalan kondusif dan mendapat respons cepat dari pemerintah setempat serta aparat penegak hukum untuk menyelesaikan permasalahan ini secara adil dan transparan.

Pos terkait