SEARAH.CO – Krisis ekonomi semakin menuruk. Hal ini membuat ribuan demonstran turun kejalan mendesak presiden untuk mundur dari jabatan yang diembanya selama ini.
Aksi protes ini dilakukan akibat krisis ekonomi yang mulai terasa ditengah masyarakat. Daya beli turun, inflasi melonjak dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi dimana-mana.
Tentu kejadian ini bukan di Indonesia akan tetapi di Bolivia, Presiden Rodrigo Paz di La Paz didesak mundur oleh masa Demonstran.
Krisis ekonomi akibat penurunan produksi energi dan kekurangan dolar AS adalah yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Seperti dikutip dari CNBC Indonesia.
Seorang pendemo menendang tabung gas air mata selama protes yang menyerukan pengunduran diri Presiden Bolivia Rodrigo Paz di La Paz, Bolivia, Senin (18/5/2026) waktu setempat.
Pawai yang berujung ricuh tersebut dipicu krisis ekonomi dan bahan bakar, yang memburuk akibat kekurangan dolar AS dan penurunan produksi energi domestik.
Dikutip dari Reuters Selasa (19/5/2026), perusahaan minyak negara Bolivia YPFB mengatakan bahwa blokade di pabrik Senkata dan beberapa jalan lain di seluruh negeri memicu penangguhan pengiriman minyak ke daerah-daerah yang terkena dampak.
Kericuhan yang telah meluas ini telah memblokir jalan selama hampir dua minggu dan menyebabkan kekurangan makanan, bahan bakar, dan perlengkapan medis di seluruh negeri.
“Presiden Paz seharusnya memerintah, bukan mengadu domba kita sebagai saudara,” ucap salah satu demonstran. “Saudara-saudara kita ada di sini; bahkan putra saya seorang petugas polisi ada di sana, berhadapan dengan saya. Bukan itu yang kami, masyarakat adat, inginkan. Itulah mengapa kami mengatakan kepada saudara kami, presiden: kami telah memberi Anda kekuasaan, tetapi Anda belum mampu memerintah” tambahnya.
Krisis ekonomi Bolivia, yang diakibatkan oleh penurunan produksi energi dan kekurangan dolar AS, adalah yang terburuk yang pernah dialami negara itu dalam beberapa dekade terakhir.
Kelangkaan bahan bakar juga meluas di seluruh negeri, menyusul dekrit presiden pada Desember 2025 yang mengakhiri subsidi bahan bakar nasional, yang menyebabkan harga bensin jauh lebih tinggi.





