Saat Berita Buruk Tak Pernah Usai: Doomscrolling dan Krisis Kesehatan Mental

Dalam era digital yang saling terhubung, manusia berada dalam gelombang informasi yang terus-menerus mengalir. Dari saat terbangun hingga menjelang tidur lagi, banyak orang sering menatap layar untuk membuka media sosial, membaca berita, atau sekadar menggulir ponsel tanpa tujuan yang jelas. Aktivitas yang terlihat remeh ini ternyata memiliki dampak psikologis yang cukup rumit. Salah satu fenomena yang sering dibahas dalam kajian psikologi modern adalah doomscrolling, yaitu kebiasaan terus menerus mengonsumsi berita negatif di dunia maya meskipun dapat menimbulkan perasaan cemas atau tidak nyaman (Wheaton et al., 2024). Dalam pandangan psikologi, doomscrolling bukan hanya sekadar kebiasaan digital, tetapi juga cerminan dari mekanisme kecemasan dan pengaruh bias kognitif manusia terhadap ancaman.

Fenomena ini muncul secara luas sejak terjadinya pandemi COVID-19, ketika masyarakat berusaha mencari kepastian di tengah ketidakpastian yang melanda global. Penelitian oleh Dhir et al. (2021). menunjukkan bahwa meningkatnya penggunaan media sosial untuk mendapatkan informasi mengenai pandemi berkorelasi secara signifikan dengan peningkatan tingkat stres dan kecemasan. Temuan mereka mengungkapkan bahwa 68% responden merasa kesulitan untuk berhenti membaca berita negatif walaupun mereka sadar bahwa itu membuat perasaan mereka semakin buruk. Pola perilaku ini sesuai dengan konsep bias negatif, yaitu kecenderungan otak manusia untuk lebih mengutamakan informasi yang negatif daripada yang positif (Rozin dan Royzman, 2001).

Dalam pandangan evolusi, kecenderungan ini bermanfaat untuk mempertahankan kewaspadaan terhadap kemungkinan ancaman, tetapi di zaman digital sekarang, ia menjadi penyebab utama dari kecemasan yang berkepanjangan. Kecenderungan untuk terus menggulir berita negatif didorong oleh algoritma media sosial yang mengenali preferensi pengguna.

Berdasarkan penelitian Kross dan rekan rekannya (2023), algoritma tersebut secara tidak langsung meningkatkan dorongan untuk melihat konten emosional, khususnya yang negatif, karena jenis konten ini cenderung menarik lebih banyak perhatian. Dalam eksperimen yang melibatkan 1200 pengguna media sosial, ditemukan bahwa paparan berulang terhadap berita buruk selama dua minggu dapat meningkatkan tingkat kecemasan hingga 24% dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya melihat berita netral. Fenomena ini menunjukkan bahwa kecemasan di ranah digital bukan hanya hasil dari perilaku individu, tetapi juga merupakan dampak dari desain sistem yang memanfaatkan kecenderungan emosional manusia.

Aspek psikologis lainnya yang juga memperkuat perilaku doomscrolling adalah ketakutan akan kehilangan momen penting atau Fear of missing out (FOMO). FOMO muncul dari keinginan manusia untuk terhubung dengan komunitas sosialnya. Penelitian oleh Przybylski et al. (2023) menunjukkan bahwa orang yang memiliki tingkat FOMO yang tinggi cenderung menggunakan media sosial dengan lebih aktif dan lebih sering terpapar informasi yang negatif. Mereka melaporkan bahwa 61% dari responden merasa “gelisah” jika tidak mengikuti berita terbaru, terutama yang bersifat mengkhawatirkan atau dapat menimbulkan kepanikan. Ini menunjukkan bahwa kecemasan digital bukan sekadar respons stres, tetapi juga kebutuhan psikologis untuk mempertahankan kontrol atas lingkungan sosial yang tidak menentu.

Doomscrolling juga terkait dengan sistem penghargaan dalam otak. Setiap kali seseorang menemukan berita baru, otak mengeluarkan sedikit dopamin, yaitu zat kimia yang memberikan rasa puas sementara. Namun, karena banyak informasi yang dikonsumsi cenderung negatif, pengguna terjebak dalam siklus yang bertentangan sehingga mereka mencari informasi untuk merasa lebih tenang, tetapi justru menjadi lebih cemas setelah membacanya.

Penelitian jangka panjang oleh Kushlev et al. (2023) menunjukkan bahwa orang yang menggunakan media sosial lebih dari 3 jam setiap hari memiliki tingkat kecemasan keadaan 35% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang menggunakan kurang dari satu jam. Data ini menegaskan bahwa doomscrolling berfungsi sebagai lingkaran penguatan yang sulit dihentikan tanpa adanya intervensi perilaku yang sadar.

Selain faktor individu, lingkungan sosial juga memperburuk masalah ini. Dalam komunitas yang semakin terpecah, berita buruk sering kali tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga memperkuat identitas kelompok. Penelitian oleh Rieger dan Klimmt (2024) menunjukkan bahwa mengonsumsi berita negatif dapat meningkatkan emosi bersama seperti kemarahan atau ketakutan, yang pada akhirnya memperdalam rasa keterikatan sosial yang tidak nyata di dunia maya. Ini menunjukkan bahwa doomscrolling bukan hanya sekadar ketergantungan pada informasi, tetapi juga merupakan reaksi sosial terhadap kebutuhan akan kesatuan dan makna di tengah ketidakpastian zaman sekarang.

Kondisi ini membawa dampak serius bagi kesehatan mental. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (2024), terdapat kenaikan global dalam kasus kecemasan serta depresi ringan hingga sedang sebanyak 25% sejak tahun 2020, dengan penggunaan media digital secara berlebihan sebagai salah satu penyebabnya. Penelitian yang dilakukan oleh Dempsey et al. (2022) mengungkapkan bahwa perilaku mengonsumsi berita negatif secara kompulsif menunjukkan hubungan yang signifikan dengan gejala depresi ringan, walaupun sudah dikendalikan dengan variabel usia dan jenis kelamin.

Upaya untuk mengatasi dampak dari doomscrolling menjadi fokus utama dalam bidang literasi digital dan kesehatan mental. Salah satu konsep baru yang muncul adalah digital hygiene, yang mengacu pada kemampuan untuk menjaga interaksi yang sehat dengan teknologi.

Meier et al. (2022) menjelaskan digital hygiene sebagai kesadaran reflektif mengenai kapan, mengapa, dan bagaimana seseorang berinteraksi dengan media digital. Dalam sebuah jajak pendapat yang melibatkan 1. 500 orang, mereka menemukan bahwa praktikpraktik sederhana seperti membatasi waktu penggunaan layar dan melakukan mindful scrolling dapat mengurangi tingkat kecemasan hingga 18% dalam waktu tiga minggu. Pendekatan ini menekankan pentingnya intervensi pencegahan berbasis perilaku dan kesadaran diri, bukan hanya sekadar membatasi teknologi.

Selain menekankan dampak segera terhadap kecemasan, penting juga untuk memahami bagaimana doomscrolling membentuk pola pikir kolektif masyarakat. Dari sudut pandang psikologi sosial, perilaku ini dapat dianggap sebagai bentuk coping kolektif yaitu strategi bersama untuk menghadapi ketidakpastian melalui informasi yang dikonsumsi (Pennycook dan Rand, 2022). Ketika banyak orang terlibat dalam doomscrolling secara bersamaan, muncul suatu “emosi kolektif” yang menyebar di dunia maya.

Hal ini diperkuat oleh fenomena penularan emosi, yang merupakan penyebaran emosi dari satu individu ke individu yang lain melalui platform daring. Penelitian yang dilakukan oleh Kramer et al. (2014) menunjukkan bahwa paparan emosi negatif di media sosial dapat menyebar dengan cepat, bahkan tanpa adanya interaksi langsung, dan dapat membuat suasana hati pengguna lain semakin buruk. Ini menunjukkan bahwa doomscrolling tidak hanya berpengaruh pada individu, tetapi juga memengaruhi iklim emosional masyarakat secara keseluruhan.

Doomscrolling dapat memengaruhi cara orang dalam memproses informasi dan membentuk pandangan terhadap dunia. Dalam studi psikologi kognitif, paparan yang terusmenerus terhadap berita negatif bisa menyebabkan heuristic availability, yaitu kecenderungan untuk menganggap suatu peristiwa lebih sering atau lebih berbahaya hanya karena lebih mudah

diingat atau sering muncul di media (Tversky dan Kahneman, 1973). Akibatnya, individu mungkin merasa bahwa kondisi dunia lebih buruk daripada yang sebenarnya. Dalam konteks digital, hal ini bisa berpotensi menimbulkan sikap apatis sosial, menurunnya empati, dan melemahnya keterlibatan masyarakat dalam isu-isu publik.

Pada akhirnya, doomscrolling mencerminkan masalah yang dihadapi manusia modern antara keinginan untuk mendapatkan informasi dan kebutuhan akan ketenangan. Di satu sisi, akses terhadap berita dan informasi memberikan rasa kendali dan keamanan dan di sisi lain, kelebihan informasi dapat menimbulkan kecemasan yang merusak keseimbangan mental. Memahami doomscrolling berarti menyadari hubungan rumit antara pikiran, emosi, dan teknologi. Meningkatkan kesadaran akan dunia digital bukan hanya merupakan langkah pencegahan terhadap kecemasan, tetapi juga cara beradaptasi secara psikologis terhadap kenyataan baru dalam kehidupan yang selalu terhubung. Dengan kesadaran ini, manusia dapat kembali menjadi agen yang menguasai teknologi, bukan sekadar objek yang dikendalikan oleh algoritma.

Penulis : Napiza Az Zahra (G1C124021)

Mahasiswi Psikologi Universitas Jambi

Refernsi

Dempsey, A. E., O’Brien, K. D., & Tiamiyu, M. F. (2022). Compulsive news consumption and mental health during crises: Evidence from the COVID-19 pandemic. Computers in Human Behavior, 134, 107345 (https://doi.org/10.1016/j.chb.2022.107345)

Dhir, A., Yossatorn, Y., Kaur, P., & Chen, S. (2021). Online social media fatigue and anxiety during COVID-19: A cross-national study. Telematics and Informatics, 64, 101699 (https://doi.org/10.1016/j.tele.2021.101699)

Kramer, A. D. I., Guillory, J. E., & Hancock, J. T. (2014). Experimental evidence of massivescale emotional contagion through social networks. Proceedings of the National Academy of Sciences, 111(24), 8788–8790. https://doi.org/10.1073/pnas.1320040111 Kross, E., Verduyn, P., & Park, J. (2023).

Algorithmic curation, emotional contagion, and user anxiety on social media. Computers in Human Behavior, 139, 107521 (https://doi.org/10.1016/j.chb.2023.107521)

Kushlev, K., Proulx, J., & Dunn, E. W. (2023). Digital habits and mental well-being: A longitudinal analysis of media use and anxiety. Journal of Social and Clinical Psychology, 42(4), 321–339.(https://doi.org/10.1521/jscp.2023.42.4.321)

Meier, A., Schäfer, S., & Reinecke, L. (2022). Digital hygiene: Conceptualizing and measuring healthy digital media use. Journal of Media Psychology, 34(3), 135–148. (https://doi.org/10.1027/1864-1105/a000312)

Pennycook, G., & Rand, D. G. (2022). The psychology of misinformation: Why we get fake news and what to do about it. Trends in Cognitive Sciences, 26(7), 597–612. https://doi.org/10.1016/j.tics.2022.04.004

Przybylski, A. K., Murayama, K., & Weinstein, N. (2023). Fear of missing out and social media engagement: Revisiting the link with mental health. Computers in Human Behavior, 138, 107479. (https://doi.org/10.1016/j.chb.2023.107479)

Rieger, D., & Klimmt, C. (2024). Collective anxiety and online news consumption in polarized societies. Media Psychology, 27(1), 44–61 (https://doi.org/10.1080/15213269.2023.2267148)

Rozin, P., & Royzman, E. B. (2001). Negativity bias, negativity dominance, and contagion. Personality and Social Psychology Review, 5(4), 296–320.  (https://doi.org/10.1207/S15327957PSPR0504_2)

Tversky, A., & Kahneman, D. (1973). Availability: A heuristic for judging frequency and probability. Cognitive Psychology, 5(2), 207–232. https://doi.org/10.1016/0010 0285(73)90033-9

Weinstein, N., & Nguyen, T. (2024). Self-compassion and digital well-being: Understanding adaptive media engagement. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking,

27(2), 102–110. (https://doi.org/10.1089/cyber.2023.0112)

Wheaton, M. G., Prikhidko, A., & Messner, E. M. (2024). Doomscrolling and anxiety: The

psychological costs of endless negative news exposure. Frontiers in Psychology, 15, 1320493. (https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1320493)

Pos terkait