Kepribadian ganda, adalah sesuatu yang tidak asing terdengar. Seseorang yang memiliki lebih dari satu identitas sudah menjadi konsep yang cukup populer di media sosial, novel, maupun film. Akan tetapi, banyak yang menyalahartikan bagaimana gangguan disosiatif yang sebenarnya di dunia nyata, dan apa pengaruhnya terhadap kesehatan mental.
Gangguan Identitas Disosiatif, atau mungkin lebih sering dikenal dengan istilah kepribadian ganda merupakan isu yang masih kontroversial di dunia klinis. Seperti apa sih Gangguan Identitas Disosiatif itu?
Nah, Gangguan Identitas Disosiatif atau dissociative identity disorder (DID) adalah gangguan dimana individu memiliki dua kepribadian atau lebih, yang masing-masing mempunyai sifat, perilaku, ingatan, bahkan bisa gaya bicara yang berbeda. DID berkaitan dengan pengalaman yang sangat menakutkan, peristiwa traumatis, atau kekerasan yang terjadi pada masa kanak-kanak.
Ternyata, banyak pemahaman yang keliru seputar gangguan identitas disosiatif.
Berdasarkan survey, miskonsepsi yang sering muncul tentang gangguan ini :
Miskonsepsi 1 : DID Dan Gangguan Bipolar Adalah Suatu Gangguan Yang Sama.
Meskipun secara sekilas tampak mirip, DID dan gangguan bipolar merupakan dua gangguan yang berbeda, dengan kriteria gejala yang berbeda pula. Diagnosis yang tepat dari psikolog atau psikiater sangat diperlukan agar individu mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Miskonsepsi 2 : Orang Yang Mengalami DID Dapat Mengubah Kepribadiannya Sesuai Kemauan.
Seseorang dengan gangguan ini tidak memiliki kendali atas perubahan perilaku, pikiran, kesadaran, maupun ingatannya. Dengan kata lain, keadaan kepribadiannya bisa berubah baik secara halus maupun tiba-tiba, dan mereka tidak punya kuasa atas terjadinya hal ini. Individu dengan DID tidak berganti kepribadian demi keuntungan, malah justru gangguan ini menyebabkan kesulitan yang signifikan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Miskonsepsi 3 : DID Disebabkan Oleh Keturunan Atau Genetik.
DID tidak diturunkan secara genetik. Faktor penyebab yang paling berpengaruh adalah adanya trauma berat di masa kecil. Sedangkan faktor genetik memiliki pengaruh yang lebih kecil, yaitu memungkinkan seseorang menjadi lebih rentan terhadap gejala disosiatif.
Miskonsepsi 4 : DID Sama Seperti Orientasi Identitas Gender.
DID sering disalahpahami sebagai masalah identitas gender, padahal keduanya berbeda. Identitas gender adalah cara seseorang merasakan dirinya sebagai laki-laki, perempuan, atau lainnya. Sedangkan DID adalah kondisi psikologis ketika seseorang memiliki lebih dari satu identitas atau kepribadian di dalam dirinya. Identitas-identitas ini bisa muncul dengan karakter yang bermacam-macam. Ada yang anak-anak atau dewasa, ada yang laki-laki atau perempuan. Perbedaan ini bukan berarti orang tersebut bingung dengan identitas gendernya, melainkan memang bagian dari cara pikiran mereka memisahkan pengalaman dan emosi akibat trauma.
Miskonsepsi 5 : DID Disebabkan Oleh Penyalahgunaan Narkoba Dan Alkohol.
DID tidak disebabkan oleh penggunaan zat, narkoba ataupun alkohol. Miskonsepsi ini muncul karena ada beberapa kasus individu dengan gangguan ini yang secara bersamaan mengalami gangguan penyalahgunaan zat juga. Tetapi, seseorang dengan penyalahgunaan zat tidak selalu mengalami gangguan identitas disosiatif, dan begitu pula sebaliknya.
Pentingnya diagnosis oleh ahli
Dari banyaknya miskonsepsi yang beredar di masyarakat, hal ini menegaskan urgensi penegakan diagnosis oleh psikolog klinis serta perlunya mencegah praktik self-diagnose maupun pemberian label terhadap orang lain tanpa riwayat dari profesional. Penegakan diagnosis pada DID tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi memerlukan prosedur asesmen klinis yang terstandarisasi, termasuk wawancara mendalam dan observasi perilaku.
Tanpa keterlibatan tenaga ahli, pemahaman tentang gejala menjadi rentan mengalami bias persepsi, dan pemahaman yang keliru. Praktik self-diagnose tidak hanya berpotensi menimbulkan kesalahan pemahaman mengenai kondisi yang dialami, tetapi juga dapat menghambat individu memperoleh intervensi terapeutik yang tepat.
Oleh karena itu, diagnosis profesional tidak sekadar menetapkan kategori klinis, tetapi juga merupakan langkah penting untuk memastikan validitas diagnosis, menentukan kebutuhan penanganan, dan mencegah konsekuensi sosial dan psikologis dari miskonsepsi atau labeling yang salah.
Penyebab DID
DID biasanya disebabkan oleh pengalaman traumatik yang sangat serius, terutama pada masa kanak-kanak. Trauma ini bisa beragam, termasuk kekerasan fisik, emosional, seksual, atau pengabaian. Saat anak mengalami tekanan yang sangat berat secara terus-menerus tanpa adanya tempat yang aman, perkembangan emosional mereka terganggu, yang kemudian mempengaruhi pembentukan identitas diri mereka.
Di samping trauma masa kecil, situasi keluarga yang tidak stabil, seperti pola asuh yang keras, tidak konsisten, penuh perselisihan, atau kurangnya dukungan, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya DID. Pengalaman traumatis yang berlangsung hingga usia remaja atau dewasa, seperti kekerasan dari pasangan, eksploitasi, atau pengalaman hidup yang sangat menakutkan, juga dapat memperburuk kondisi ini.
Beberapa studi mengemukakan bahwa faktor biologis turut berperan. Terdapat perbedaan di bagian otak yang mengatur emosi dan memori pada beberapa individu yang mengalami DID. Faktor genetik juga bisa memberikan sedikit kontribusi terhadap kerentanan seseorang.
Gejala DID
DID adalah kondisi kesehatan mental yang dicirikan dalam beberapa kriteria berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-5.
* Ditandai dengan dua atau kondisi kepribadian yang berbeda satu sama lain.
* Kesulitan mengingat kejadian yang dilalui sehari-hari, kesulitan mengingat informasi pribadi yang penting, dan peristiwa traumatis yang tidak konsisten dengan lupa biasa.
* Gejala tersebut menganggu kehidupan sosial, mulai dari pekerjaan, hingga bidang fungsi lainnya.
* Gangguan ini bukan bagian normal dari praktik atau budaya, yang mungkin dapat sulit diterima secara luas oleh masyarakat.
* Gejala-gejalanya tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat.
Penanganan DID
Ada dua cara yang dilakukan untuk menangani gangguan identitas disosiatif :
1. Terapi psikologis. Terapi untuk mengatasi gangguan ini fokus dalam membantu pasien menyelesaikan konflik emosional yang berkaitan dengan trauma masa lalu, serta juga mencari strategi coping yang lebih efektif dalam menghadapi stres di kehidupan mereka. Tujuan dari terapi ini adalah mengintegrasikan kepribadian-kepribadian yang berbeda agar dapat menjadi suatu kesadaran yang utuh kembali.
2. Obat-obatan. Secara umum, tidak ada obat tertentu yang dapat secara langsung mengatasi gangguan identitas disosiatif. Namun obat-obatan dapat membantu dalam mengatasi gejala lain yang muncul bersamaan dengan gangguan ini, misalnya depresi dan kecemasan.
Apa yang harus dilakukan?
DID sering kali disalahpahami, sehingga individu yang menderita kondisi ini sering dijauhi, dilihat sebagai ancaman, atau mengalami perlakuan yang diskriminatif.
Padahal, mereka sebenarnya bukanlah bahaya bagi orang lain. Justru mereka memerlukan lingkungan yang aman, stabil, dan mendukung untuk dapat pulih. Pendidikan di masyarakat sangat penting untuk menurunkan stigma yang muncul akibat kesalahpahaman ini.
Masyarakat harus memahami bahwa perubahan perilaku atau pergantian identitas pada individu dengan DID adalah hasil dari respons psikologis terhadap trauma berat di masa lalu, bukan suatu tindakan yang disengaja atau dibuat-buat. Pemahaman ini dapat membantu orang-orang di sekitar mereka menjadi lebih empatik, tidak terburu-buru dalam menilai, serta lebih menghargai pengalaman yang dialami oleh penyintas DID.
Memberikan lingkungan yang aman merupakan salah satu bentuk dukungan paling mendasar. Masyarakat dapat berkontribusi dengan mendengarkan tanpa melakukan interupsi, tidak menstigmatisasi perilaku mereka, dan menghormati batasan yang mereka tetapkan. Jika melihat seseorang yang menunjukkan tanda-tanda tertentu, masyarakat juga dapat mendorong mereka untuk mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater, tanpa memaksa atau memberikan label sembarangan.
Penanganan DID tidak dapat dilakukan sendiri atau hanya mengandalkan informasi di media sosial. Penyintas memerlukan perawatan yang tepat dari tenaga ahli yang dapat memberikan diagnosis, menyusun rencana terapi, dan mengawasi proses pemulihan dengan metode ilmiah. Masyarakat dapat membantu dengan mengarahkan penyintas kepada layanan kesehatan mental terdekat, menemani mereka jika merasa takut untuk mencari bantuan, serta memastikan bahwa mereka tidak dihakimi selama proses tersebut.
Dengan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung, inklusif, dan tanpa diskriminasi, individu dengan DID dapat menjalani proses pemulihan dengan lebih nyaman. Pendidikan yang tepat tidak hanya membantu masyarakat menjadi lebih bijak, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup penyintas, serta mendorong mereka untuk lebih berani mencari bantuan profesional lebih awal.
Oleh
Nadya Aulia Zhafira G1C124016
Nafisa Dea Santika G1C124017
Napiza Az Zahra G1C124021
Shahnaz Avrianty Rawhun G1C1240238
Mahasiswa Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jambi (FK UNJA)




